ExPloRing JOGJA

Yogya, Mengemas Wisata Lewat Layanan Khusus

Pengantar:
UNTUK meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus pengenalan potensi pariwisata dan perguruan tinggi di Yogyakarta, Badan Pariwisata Daerah (Baparda) DI Yogyakarta bersama pelaku wisata dan instansi terkait mengadakan “Travel Dialog” ke Jabar, yakni Kab. Bogor, Sukabumi, dan Cianjur yang diakhiri silaturahmi ke Kantor Redaksi Pikiran Rakyat Bandung. Diikuti 30 anggota dari Baparda, BPKY, Kapurel, UPN, Siwata (PWI Pariwisata), Dagadu, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (TWCBPRB), serta empat Dinas Parsenibud Kabupaten dan Dinparsenibud Kota Yogyakarta dipimpin Drs. Bambang Pidekso didampingi Istri Wakil Wali Kota Yogyakarta, Hj. Tri Kirana Muslidatun, S.Psi., dan kepala dinas terkait.
Redaksi

TRAVEL Dialog bertujuan untuk mengenalkan potensi pariwisata dan perguruan tinggi Yogyakarta sekaligus menerima kritik dan saran, baik tentang kekurangan dalam hal pelayanan maupun ganjalan demi kemajuan dan peningkatan mutu pelayanan di bidang pariwisata.

“Paling penting, DI Yogyakarta pascagempa 26 Mei 2006 dipandang sudah pulih sehingga terbuka bagi para wisatawan baik asing maupun lokal untuk kembali mengunjungi Yogya. Untuk memberikan kenyamanan, bagi rombongan wisatawan yang datang ke Yogya minimal empat bus diberikan layanan pengawalan khusus secara gratis,” kata Hadi Mohtar.

Istri Wali Kota Yogyakarta, Hj. Tri Kirana Muslidatun menambahkan, untuk keamanan dan kenyamanan wisatawan yang datang ke Yogyakarta, selain ada pengawalan khusus juga ada penyambutan dari para pelaku pariwisata Yogya,” katanya.

Menanggapi hal itu, Kadinas Pariwisata Bogor, Yamin M. Saleh, Bambang dan Suwandi dari SMA 9 Bogor dalam kritik dan sarannya mengungkapkan, Kota Yogyakarta memang menarik untuk dikunjungi wisatawan. Selain banyak tempat wisata juga terkenal berbagai kebudayaan Jawa.

Hadi Mohtar berjanji dan mengucapkan terima kasih atas kritik dan saran tersebut. “Kami berterima kasih atas saran dan kritik yang sifatnya membangun. Sebab, tanpa kritik kami pun bakal terlena dan tidak tahu permasalahan di lapangan. Kami berjanji akan membenahi kekurangan para pelaku wisata Yogya,” katanya.

Oleh karena itu, awal tahun 2007 pihaknya sudah menertibkan 100 tukang becak dengan diberikan pembinaan, termasuk pemberian tanda khusus pada becak. Untuk tahun 2008, juga dilakukan pembinaan terhadap 1.000 tukang becak, yang semuanya akan diberi tanda dan becaknya diberi tanda khusus,” kata Mohtar.

Sedangkan di Sukabumi, rombongan diterima Kabid Kebudayaan Kab. Sukabumi, Nung Nur Haryati, S.Pd dan staf serta beberapa kepala sekolah, guru, siswa, dan pejabat terkait. Kabupaten yang mempunyai pengenalan wisata kebudayaan tradisi (hari nelayan, situs tugu Gede Cungguk dan tradisi sesaji laut ini) tampaknya ada kesamaan dengan tradisi yang ada di Yogya.

“Daerah kami punya empat tradisi tahunan yang menarik untuk dikunjungi, yakni tradisi hari nelayan, adat seren tahun, kasepuhan cipta gelar dan tradisi sirna resmi. Hal itu biasanya dilaksanakan antara Juli, Agustus, dan Oktober yang mendapat perhatian khusus wisatawan baik asing maupun lokal,” kata Hj. Neneng Lienfi, S.Pd., salah seorang staf Dinas Pariwisata Sukabumi.

Tradisi menarik

Menurut Bambang Pidekso, Yogyakarta yang terdiri atas empat kabupaten satu kotamadya, sarat dengan berbagai tempat wisata. Misalnya, Candi Prambanan, Boko, Kaliurang, Kraton, museum, Malioboro serta berbagai tradisi yang cukup menarik bagi wisatawan.

Kulonprogo misalnya, selain dikenal dengan pantainya juga ada pemandian Clereng, Puncak Suroloyo, Desa Wisata Nglinggo, gua Kiskendo. Juga ada kesenian angguk dan makanan khas geblek dan produk unggulan teh Mahkota Dewa. Sedangkan Bantul di pantai selatan juga memiliki banyak tempat wisata dan makanan khas geplak menjadi ciri khasnya.

Sleman dan Gunung Kidul selain punya wisata gunung juga makanan khas, yakni nasi merah serta jadah tempe dan salak pondoh. Kota Yogyakarta yang beken dengan Malioboro juga terkenal dengan kota pendidikan, yang tahun ini mempunyai wisata minat khusus bernama Taman Pintar.

“Saya sering liburan ke Kota Yogya, selain kotanya bersih, suasananya sejuk dan nyaman juga banyak kenangan yang sulit untuk dilupakan. Sayang kami dibikin kecewa dengan perilaku warung-warung lesehan di Malioboro, yang sering memukul harga seenaknya. Masa saya bertiga hanya makan nasi gudeg dan minum, ’ditembak’ Rp 75 ribu,” papar Ny. Neneng.

Sementara di Cianjur, kabupaten yang luas wilayahnya 350 m2 berpenduduk 2,1 juta ini, memiliki potensi wisata utama adalah jasa dan pengelolaan pariwisata alam serta wisata minat khusus. Rombongan pun diterima di gedung serbaguna Kab. Cianjur oleh Kepala Dinas Pendidikan setempat, Drs. H. Hidayat Aktori, M.Si., bersama staf yang dihadiri sekitar 80 orang.

Dialog dipandu Drs. Suhardono (Kadisparsenibud Gunungkidul) lebih marak dengan adanya pembagian doorprize dan penampilan penyanyi gabungan. “Saya bersama staf terkait menyambut baik kedatangan rombongan dari Yogya. Dengan pengenalan potensi pariwisata, kami mendapat informasi terkini setelah gempa. Kami bisa saling memberi dan meminta informasi potensi wisata di daerah masing-masing guna kepentingan wisatawan,” ujar Hidayat Aktori.

Deddy Eryono Pranowo, Sekretaris BP2KY menambahkan, program Travel Dialog secara bersamaan, memang membuka atau menerima berbagai masukan. “Lewat saran dan kritik, akan tahu kekurangan dan kelemahan pengelolaan wisata di Yogya. Ke depan, kedatangan wisatawan ke Yogya akan merasa lebih nyaman, aman, dan berkesan,” kata Deddy. (Nadi Mulyadi/MB)***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: