Kraton

Kasultanan Yogyakarta

Kraton ( istana ) Kasultanan Yogyakarta terletak dipusat kota Yogyakarta. Lebih dari 200 tahun yang lalu, tempat ini ini merupakan sebuah rawa dengan nama Umbul Pacetokan, yang kemudian dibangun oleh Pangeran Mangkubumi menjadi sebuah pesanggrahan dengan nama Ayodya.Pada tahun 1955 terjadilah perjanjian Giyanti yang isinya membagi dua kerajaan Mataram menjadi Ksunanan Surakarta dibawah pemerintah Sunan Pakubuwono III dan Kasultanan Ngayogyakarta dibawah pemerintah Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I.Pesanggrahan Ayodya selanjutnya dibangun menjadi Kraton Kasultanan Yogyakarta . Kraton Yogyakarta berdiri megah menghadap ke arah utara dengan halaman depan berupa alun- alun ( lapangan ) yang dimasa lalu dipergunakan sbg tempat mengumpulkan rakyat, latihan perang bagi para prajurit, dan tempat penyelenggaraan upacara adat. Pada tepi sebelah selatan Alun- alun Utara , terdapat serambi depan istana yang lazim disebut Pagelaran.

Ditempat ini Sri Sultan, kerabat istana dan para pejabat pemerintah Kraton menyaksikan latihan para prajurit atau beberapa upacara adat yang diselenggarakan di alun – alun utara. Dihalaman lebih dalam yang tanahnya sengaja dibuat tinggi ( sehingga disebut Siti Hinggil ), terdapat balairung istana yang disebut bangsal Manguntur Tangkil. Ditempat ini para wisatawan dapat menyaksikan situasi persidangan pemerintahan Kraton jaman dulu, yang diperagakan oleh boneka – boneka lengkap dengan pakaian kebesaran. Kratron sebagai pusat pemerintahan dan Kraton sbg tempat tinggal Sri Sultan Hamengku buwono beserta kerabat istana, dipisahkan oleh halaman dalam depan yang disebut Kemandungan utara atau halaman Keben, karena disini tumbuh pohon yang dalam tahun 1986 dinyatakan Pemerintah Indonesia sbg lambing perdamaian , dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Internasional.

Didalam lingkungan Kraton sebelah dalam terdapat halaman Sri Manganti dengan regol ( gapuro ) Danapratopo yang dijaga sepasang Dwarapala : Cingkarabala dan Bala Upata, Bangsal Traju Mas, Bangsal Sri Manganti yang kini dipergunakan untuk menyimpan beberapa perangkat gamelan antik dan dari masa silam, yang memiliki laras merdu sewaktu diperdengarkan suaranya. Didalam halam Inti yang terletak lebih kedalam,para wisatawan dapat menyaksikan gedung Kuning yang merupakan gedung tempat Sri Sultan beradu, bangsal Prabayekso. Bangsal manis, tempat Sri Sultan menjamu tamu – tamunya, lingkungan Kasatriyan sbg tempat tinggal putera ; putera Sri Sultan yang belum menikah. Tempat terakhir ini terlarang bagu kunjungan wisatawan. Kraton merupakan sumber pancaran seni budaya jawa yang dapat disaksikan melalui keindahan arsitektur dengan ornamen- ornamennya yang mempesonakan. Setiap hari Karaton terbuka untuk kunjungan wisatawan mulai pukul 08.30 hingga pukul 13.00, kecuali hari Jum;at Kraton hanya buka sampai dengan pukul; 11.00.


Kraton Kasultanan Yogyakarta

Kraton Yogyakarta didirikan pada tahun 1756 oleh Pangeran Mangkubumi (Hamengkubu Buwono I) sebagai pusat kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada mulanya, lokasi Kraton sekarang ini merupakan daerah rawa yang bernama Umbul Pacethokan, yang kemudian dibangun menjadi sebuah pesanggrahan Ayodya.

Sebagaimana bangunan kraton pada kerajaan-kerajaan Jawa umumnya, Kraton Yogyakarta dibangun menghadap ke utara. Bangunan terluar berupa benteng kraton yang dibuat dari batubata merah dengan ketebalan sekitar 4 meter. Benteng ini melingkari kraton sepanjang 4 kilometer persegi, dan membentuk segi empat dengan beberapa gerbang utama (regol). Susunan bangunan Kraton Yogyakarta berturut-turut dari utara ke selatan : Alun-alun utara (termasuk Siti Hinggil dan Bangsal Pagelaran), Kemandungan Lor (utara) atau Keben, Sri Manganti, Kraton sebagai bangunan induk, Kemagangan, Kemandungan Kidul (selatan), dan terakhir pada Alun-alun Selatan.

Pada jaman kerajaan, Alun-alun Utara digunakan untuk mengumpulkan prajurit dan rakyat, disamping digunakan untuk upacara-upacara adat seperti Grebeg, Sekaten, dan lain-lain. Keberadaan Alun-alun ini melambangkan menunggalnya raja dengan rakyat dalam membangun kerajaan. Di tengah alun-alun terdapat dua pohon beringin yang melambangkan bahwa Sultan adalah pelindung dan pengayom rakyatnya. Pada bangunan Pagelaran dan Siti Hinggil terdapat adegan pisowanan (persidangan) para pejabat kerajaan dengan Sultan. Para pejabat kerajaan duduk di bangunan Pagelaran, sedangkan tempat duduk Sultan terletak pada bangsal Manguntur Tangkir yang terletak di bangunan Siti Hinggil. Di belakang bangsal Manguntur Tangkir, terdapat bangsal Witana, yaitu tempat untuk menyimpan lambang-lambang kebesaran kerajaan yang digunakan dalam upacara.

Bangunan kedua dari kraton bernama Keben atau Kemandungan lor. Bangunan utamanya bernama bangsal Ponconiti, yaitu bangsal pengadilan khususnya yang berkenaan dengan lima perkara besar yang diancam hukuman mati. Sekarang ini, pada bangunan ini terdapat kantor Tepas Pariwisata Kraton. Pada bagian ini terdapat bangsal Trajumas di sebelah kiri dan bangsal Sri Manganti di sebelah kanan. Pada bangsal Trajumas terdapat berbagai peralatan upacara tradisional, sedangkan pada bangsal Sri Manganti terdapat berbagai acara kesenian seperti tari-tarian klasik, karawitan, dan wayang kulit. Bangsal Sri Manganti dahulu merupakan tempat Sultan menanti dan menerima tamu-tamu agung. Sri Manganti sendiri berarti Raja menanti.

Setelah bangsal Sri Manganti, terdapat regol Donopratopo, yaitu sebuah gerbang yang menghubungkan halaman Sri Manganti dengan halaman inti kraton. Gerbang ini dijaga oleh patung Dwarapala dan Gupala.Keduanya diberi nama, masing-masing, Cingkarabala dan Balaupata yang melambangkan kepribadian mulia manusia untuk selalu menggemakan kebaikkan dan melarang perbuatan yang jahat.

Pada bangunan ini kraton, terdapat beberapa bangsal. Bangsal Purnaretna, yaitu tempat Sultan bekerja, letaknya bersebelahan dengan bangunan bertingkat yang diberi nama Panti Sumbaga. Bangunan ini merupakan perpustakaan pribadi Sultan. Pada bagian lainnya terdapat Gedong Kuning, yaitu istana tempat tinggal Sultan, yang letaknya bersebelahan dengan Traju Tresna, yaitu tempat Sultan menanyakan kesanggupan putra-putrinya yang akan menikah. Di bagian lain dari inti kraton terdapat bangsal Kencono, yaitu tempat upacara penobatan Sultan dan para pangeran. Di samping itu, bangsal ini kadang kala digunakan untuk menerima tamu-tamu agung yang berhubungan dengan Kasultanan. Di sebelah barat bangsal Kencono, sekarang ini terdapat museum Sri Sultan HB XI. Di balik bangsal Kencono, terdapat bangsal Prabayeksa, yaitu tempat penyimpanan pusaka-pusaka kraton. Bangsal ini menjadi bagian paling sakral dari seluruh lingkungan bangunan kraton. Bagian lainnya adalah bangsal Manis, yaitu tempat perjamuan atau pesta, dan Gedong Patehan, yaitu tempat untuk menyiapkan minuman. Kompleks Kraton Yogyakarta setiap hari dibuka untuk masyarakat umum mulai dari pukul 07.30-13.00, kecuali pada hari Jumat sampai dengan pukul 12.00 WIB

UPACARA TRADISIONAL :

1. Pasar Malam Sekaten
2. Upacara Kupatan Jolosutro
3. Garebeg Mulud
4. Upacara Adat Saparan-Pondok Wonolelo

5. Tumplak Wajik

6. Upacara Jamasan Pusoko
7. Upacara Labuhan Keraton
8. Upacara Mengisi Air Enceh
9. Upacara Melasti dan Tawur Agung
10. Upacara Cing-Cing-Goling
11. Upacara Waicak
12. Upacara Ki Ageng Tunggul Wulung
13. Saparan Ambarketawang Gamping
14. Upacara Ritual Malam 1 Suro
15. Tradisi Suran- MbahDemang

1. UPACARA ADAT SEKATEN

Nabi Besar Muhammad S.AW. lahir pada tanggal 12 bulan Maulud, bulan ketiga dari tahun jawa. Di Yogyakarta,biasanya kelahiran Nabi diperingati dengan upacara Grebeg Maulud.Sekaten merupakan upacara pendahuluan dari peringatan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad. Diselenggarakan pada tanggal 5 hingga tanggal 12 dari bulan yang sama.Pada masa-masa permulaan perkembangan agama Islam di Jawa, salah seorang dari Wali Songo, yaitu Sunan Kalijogo,mempergunakan instrumen musik Jawa Gamelan, sebagai sarana untuk memikat masyarakat luas agar datang untuk menikmati pergelaran karawitannya.Untuk tujuan itu dipergunakan 2 perangkat gamelan, yang memiliki laras swara yang merdu. Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu. Disela- sela pergelaran, kemudian dilakukan kotbah dan pembacaan ayat-ayat suci dari Kitab Alquran. Bagi mereka yang bertekad untuk memeluk agama Islam, diwajibkan mengucapkan kalimat Syahadat,sebagai pernyataan taat kepada ajaran agama Islam. Istilah Syahadat ; yang diucapkan sebagai Syahadatain; ini kemudian berangsur- angsur berubah dalam pengucapannya, sehingga menjadi ; Syakatain; dan pada akhirnya menjadi istilah ; Sekaten ;hingga sekarang. Pada tanggal 5 bulan Maulud, kedua perangkat gamelan, Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur madu, dikeluarkan dari tempat penyimpanannya dibangsal Sri Manganti, ke Bangsal Ponconiti yang terletak di Kemandungan Utara (Keben) dan pada sore harinya mulai dibunyikan di tempat ini. Antara pukul 23.00 hingga pukul 24.00 ke dua perangkat gamelan tersebut dipindahkan kehalaman Masjid Agung Yogyakarta, dalam suatu iring-iringan abdi dalem jajar, disertai pengawal prajurit Kraton berseragam lengkap.Pada umumnya , masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya berkeyakinan bahwa dengan turut berpartisipasi merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad S.AW.ini yang bersangkutan akan mendapat imbalan pahala dari Yang Maha Kuasa, dan dianugrahi awet muda. Sebagai “ Srono “ (Syarat) nya, mereka harus mengunyah sirih di halaman Masjid Agung, terutama pada hari pertama dimulainya perayaan sekaten. Oleh karenanya, selama diselenggarakan perayaan sekaten itu, banyak orang berjualan sirih dengan ramuannya, nasi gurih bersama lauk-pauknya di halaman Kemandungan,di Alun-alun Utara maupun di depan Masjid Agung Yogyakarta. Bagi para petani, dalam kesempatan ini memohon pula agar panenannya yang akan datang berhasil. Untuk memperkuat tekatnya ini, mereka memberi cambuk (bhs. Jawa ;pecut) yang dibawanya pulang. Selama lebih kurang satu bulan sebelum upacara Sekaten dimulai, Pemerintah Daerah Kotamadya, memerintahkan perayaan ini dengan pasar malam, yang diselenggarakan di Alun-alun Utara Yogyakarta.

2. UPACARA GREBEG MAULUD

Puncak peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. diperingati dengan penyelenggaraanupacara Grebeg Maulud yang diselenggarakan pada tanggal 12 Maulud, atau pagi hari esoknya, setelah kedua perangkat gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur madu dibawa masuk kembali ke dalam Kraton oleh masyarakat Yogyakarta, kejadian ini lazim disebut dengan istilah “Bendhol Songsong”.Pada pagi hari, pukul 08.00, upacara dimulai dengan parade kesatuan prajurit Kraton yang mengenakan pakaian kebesarannya masing-masing. Puncak dari upacara ini adalah iringan gunungan yang dibawa ke Masdjid Agung . Setelah di Masdjid diselenggarakan doa dan upacara persembahan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagian gunungan dibagi-bagikan pada masyarakat umum dengan jalan diperebutkan , Bagian-bagian dari gunungan ini umumnya dianggap akan memperkuat tekad dan memiliki daya tuah terutama bagi kaum petani, mereka menanamnya dilahan persawahan mereka, untuk memperkuat doanya agar lahannya menjadi subur dan terhindar dari berbagai hama perusak tanaman.Selain upacara Grebeg Maulud, didalam satu kurun tahun Jawa terdapat upacara-upacara Grebeg yang lain, yakni Grebeg Syawal yang diselenggarakan pada tanggal 1 bulan Syawal sebagai ungkapan terima kasih masyarakat kepada Tuhan dengan telah berhasil diselesaikannya ibadah puasa selama satu bulan penuh dibulan Suci Ramadhan, dan Grebeg Besar yang diselenggarakan pada tanggal 10 bulan Besar, berkaitan dengan peringatan hari Raya Qurban – Idhul Adha.

3. Upacara Saparan Wonolelo

Upacara ini dilaksanakan pada hari Jum;at dalam minggu 1  di bulan jawa sapar,di desa Wonolelo,Kalurahan Wedomartani Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman .Bentuknya berupa upacara mengarak  pusaka-pusaka Ki Ageng Wonolelo dengan pembagian apem dengan makna apabila memdapatkan apem dan dimakan akan awet muda bebas kena penyakit bagi para petani dapat untuk menolak hama penyakit bagi tanaman padi dan polowijo diikuti dengan para pengikut upacara, dengan memakai berbagai pakaian tradisional dan pakaian upacara keprajuritan

4. Upacara Tumplak Wajik

Sebelum Upacara Grebeg berlangsung dilakukan Upacara Tumplak Wajik bertempat di halaman Kemandungan Selatan ( Magangan ) Kraton Yogyakarta, dimulai sekitar pukul 15.00 .Tumplak Wajik berarti menumpahkan Wajik, sejenis makanan yang dibuat dari Ketan sebagai bahan dasar untuk membuat gunungan Upacara ini diiringi dengan musik kothekan ( musik lesung dan kenthongan )

5. Jamasan Kraton Yogyakarta

YOGYAKARTA – Bagi orang Jawa, benda-benda pun dianggap memiliki jiwa. Oleh karena itu, benda-benda itu harus diperlakukan istimewa yang nyaris sama seperti manusia itu sendiri. Mungkin saja ini masih dianggap sebagai animisme, tapi tentu saja orang Jawa akan menyangkalnya. Yang jelas, untuk benda-benda milik Keraton Yogyakarta seperti kereta, gamelan, maupun pusaka, semuanya memiliki nama seperti manusia. Ada Kiai Sangkelat, Kiai Nagasasra (keris), Kiai Guntur Madu (gamelan), ada pula Kanjeng Nyai Jimat dan Kyai Puspakamanik (kereta). Di Keraton Yogyakarta, benda-benda itu selalu dicuci yang diistilahkan dengan nama ”dijamasi” pada bulan Sura (Muharam) dan selalu pada hari istimewa Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon.

Cara jamasan itu sendiri juga khas. Semua yang terlibat dalam ritual itu harus mengenakan pakaian adat Jawa peranakan. Mereka, semuanya laki-laki, mengenakan kain panjang, surjan, dan penutup kepala blangkon. Seperti jamasan sebuah kereta yang dibuat pada tahun 1750-an, semasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, diberi nama Kanjeng Nyai Jimat. Berbentuk anggun, bergaya kereta kerajaan-kerajaan Eropa, beroda empat, dua buah yang besar di belakang, dan dua buah di depan agak kecil, diperkirakan ditarik oleh enam sampai delapan kuda. Sebuah simbol kewibawaan seorang raja. Kereta yang penuh ukiran itu sendiri memiliki pintu dan atap sehingga mirip mobil.Kereta itu tersimpan di dalam Museum Kereta Keraton Yogyakarta. Di sana ada sekitar selusin kereta yang sebagian besar masih bisa digunakan. Setiap Kanjeng Nyai Jimat dijamasi, ”ia” selalu ditemani oleh salah sebuah kereta lain yang dipilih secara bergantian setiap tahunnya.Kereta itu menjadi tunggangan Sultan Hamengku Buwono I – III. Kereta itulah yang setiap bulan Sura selalu dijamasi karena dianggap sebagai kereta cikal-bakal kereta lainnya.

Berebut Air Bekas Cucian


Jika prosesi sejak akan mengeluarkan kereta saja sudah bernilai wisata, maka ketika proses pencucian kereta itu juga memiliki nilai wisata ritual magis religius. Orang-orang asing akan terheran-heran menyaksikan ratusan orang Jawa, bahkan juga luar Jawa ketika mendengar gaya bicaranya, berebut
bekas air cucian kereta dengan cara menampung aliran air dari badan kereta.
Air bekas cucian itu dimasukkan ke dalam botol bekas air kemasan maupun jerigen. Tak ayal lagi, masyarakat yang berebut air itu pun menjadi ikut berbasah-basah. Air dari jamasan ini menurut kepercayaan orang Jawa memiliki khasiat/memberikan berkah tertentu karena  semua benda dari keraton itu memiliki tuah yang sakti dan  milik orang sakti. Oleh karena itu dengan membawa air ini, orang akan diberi berkah, sehat wal afiat dalam menjalani kehidupannya.

Kepercayaan lain bahwa dengan  menampung air  dan disimpan. Bisa untuk penolak bala, atau bisa juga untuk kesuburan sawah. Melihat cara warga berebut air, memang tampak bersemangat dengan  nekat membungkukkan badannya di bawah kereta untuk menampung cucuran air bilasan kereta yang diambil melalui pipa air hidran di depan museum. Orangyang malas berebut air di dekat kereta, langsung menunggu aliran air di parit. Air itu ia ciduk dengan tangannya, diusapkan ke wajah dan rambutnya dengan khidmat.Mungkin kepercayaan itu yang membawa berkah.


Sebenarnya, di samping jamasan kereta, di dalam keraton juga ada jamasan pusaka. Akan tetapi, jamasan pusaka itu tidak boleh dilihat oleh umum. Misteri jamasan pusaka itu sendiri akhirnya memang tinggal misteri yang dipelihara turun-temurun. Semisteri pusaka yang dipercayai memiliki kekuatan supra natural itu sendiri.

6. Upacara Labuhan

Upacara labuhan mempersembahkan pakaian wanita , alat-alat rias, sirih, bunga dan lain-lain ke laut selatan , sebagai bentuk permohonan untuk mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Ratu Kidul Penguasa laut Selatan .Berbagai pakaian bekas yang pernah dipergunakan oleh Sri Sultan,potongan rambut serta potongan kuku beliau ditanam di dalam areal tanah sengker :suatu areal tanah yang dianggap keramat di daerah Parangkusumo .

7. Mengisi Enceh Pusaka di Makam Imogiri Yogyakarta


Kegiatan lain di bulan Suro yang ada kaitannya dengan siraman pusaka keraton Yogyakarta adalah “Mengisi Enceh Pusaka di Makam Raja-Raja Imogiri.” Upacara ini dilaksanakan di halaman supit ruang makam Sultan Agung di Imogiri yang diselenggarakan oleh keraton Yogyakarta. Enceh ini disebut juga kong yang merupakan guci besar berbentuk padasan terbuat dari keramik yang kesemuanya berjumlah empat buah; masing-masing bernama Kyai Mendhung dari Ngerem, Istambul, Turki; Nyai Siyem dari Thailand; Kyai Danumaya dari Aceh; dan Nyai Danumurti dari Palembang. Keempat enceh atau guci ini konon dulu digunakan Sultan Agung untuk tempat berwudhu.

Setiap tahun pada hari Jumat kliwon atau Selasa kliwon dalam bulan Suro, keempat enceh pusaka tersebut dikuras airnya dan kemudian diisi lagi sampai penuh. Mengisi enceh pusaka dilakukan dengan suatu upacara. Kemudian diteruskan dengan pembagian air dari enceh pusaka kepada para pengunjung yang memerlukannya. “Menurut kepercayaan, air dari enceh pusaka tersebut mempunyai khasiat besar untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit dan keperluan lainnya seperti biar awet muda dan lain-lain,” ungkap Pak Slamet (pemandu wisata taman makam Imogiri) ketika ditanya oleh MQ tentang keempat enceh yang ada di makam Imogiri. “Dan anehnya lagi, meskipun enceh ini diisi air yang tanpa dimasak dalam waktu satu tahun, enceh atau guci ini tidak berlumut,” masih kata Slamet. Keempat guci yang dulu digunakan oleh Sultan Agung sebagai tempat berwudhu, kini telah beralih fungsi menjadi tempat ngalap berkah, yaitu dengan cara minum air yang ada di dalamnya.

Menurut Sumardjono, maksud dan tujuan upacara pengisian enceh secara lahiriah adalah untuk mengisi enceh pusaka yang telah kosong. Tetapi menurut kepercayaan masyarakat, upacara pengisian enceh ini dianggap sebagai alat untuk memelihara benda-benda pusaka yang dianggap mengandung nilai-nilai spiritual dan keramat. “Dan, istimewanya dari enceh ini, meskipun hanya diisi setahun sekali dan diminum airnya oleh setiap pengunjung, tetapi tidak pernah habis selama satu tahun,” imbuhnya lagi.

8. Upacara Melasti dan Tawur Agung

Memiliki makna penyucian jasmani dan rohani yang saling dipertemukan dalam harmoni.”Melasti, pertemuan antara Pradana-Purusa, dimana pradana adalah lambang jasmani dan purusa simbol rohani. Dari purusa terpancar sifat baik sedang dari pradana muncul sifat ‘klesa’ atau angkara murka. Pertemuan harmonis antara keduanya akan membawa kerahayuan melalui media penyucian diri yaitu Melasti.

Upacara Melasti dilengkapi dua sesajen, yaitu sesajen khas Jawa dan sesajen khas Bali.   sesajen Jawa berisi bunga, tumpeng ‘Sanggabuwono’, jadah, salak, pisang raja, sambal pencok dan kolak pisang mas. Di bawah alas tumpeng Sanggabuwono di- letakkan sejumput tanah sebagai lambang sumber kehidupan.Sedang sesajen Bali terdiri dari kue, buah salak, rambutan, jeruk, pisang, dan pinang sebagai perlambang Trimurti, sirih simbol Wisnu, kapur sirih simbol Siwa, dan tembakau simbol Brahma. Dalam upacara itu diarak pula ‘Jumpana’ lambang singgasana sang Brah- ma.

Upacara Melasti bagi umat Hindu Dhar- ma merupakan sarana introspeksi diri.”Pada hari  ini umat  Hindu  mulat sarira angroso wani (in- trospeksi diri), seraya memohon pada Sang Hyang Widi untuk dapat mencapai penyucian diri yang sempurna sebagai bekal mengikuti upacara Tawur Agung dan selanjutnya keberhasilannya akan menjadi modal untuk melakukan Catur Brata Penyepian yaitu amati geni (tidak menghidupkan api), amati karya (berhenti bekerja selama sehari), amati lelungan (tidak bepergian), amati lelanguan (dilarang men- dengarkan musik, lagu, dan menonton TV), tepat pada Hari Raya Nyepi.

Ribuan umat Hindu se-Jateng dan DIY pada upacara ini , mendatangi pelataran Candi Prambanan untuk mengikuti upacara Tawur Agung Kesanga. Upacara Bhuta Yadya atau Tawur Kesanga dalam rangkaian peringatan Hari Raya Nyepi 1925 tersebut bermakna untuk menebalkan tekad dalam melestarikan keharmonisan alam.
Seperti yang terjadi, di Yogyakarta, Sejak pagi umat Hindu dari berbagai daerah Jateng dan DIY telah berdatangan ke lokasi upacara yang mengambil tempat di sebelah selatan Candi Prambanan. Sejak pukul tujuh pagi telah melakukan proses mendak tirta (memohon air suci) di Gelung Kori Candi Brahma, Wisnu, dan Siwa yang terdapat di Candi Prambanan. Pemujaan Tawur Agung Kesanga kali ini dipimpin Begawan Putra Manuaba didampingi Resi Gunawan Putra Keniten dan Begawan Istri Agung Gayatri.

Sebelum persembahyangan bersama dalam upacara Pecaruan, dipersembahkan tari-tarian dan ditampilkan lima ogoh-ogoh yang menyimbolkan keangkaramurkaan berupa Buta Kala.Masing-masing dari ogoh-ogoh ini dibuat oleh Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (KMHD) UPN Veteran yang diberi judul Kala Bangkung, KMHD Mahatma (UAJY) yang diberi judul Kala Sungsang, Gabungan KMHD USD, AKAKOM dan UKDW yang diberi judul Raksasa Bala, KMHD ISI Yogyakarta dengan karyanya Sagitarius dan ogoh-ogoh buatan muda-mudi Pura Banguntapan.
Dalam prosesi Tawur Agung Saka 1925 juga dipertontonkan tari perang yang berjudul Samuderamatana yaitu perang antara Dewa dan Raksasa untuk memperebutkan Tirta Amerta (Air Suci). Samuderamatana adalah kisah mengaduk lautan susu (Ksira Arnawa) dengan memutar gunung mandala yang dilakukan oleh para Dewa dan Raksasa untuk memperoleh Air Suci Amerta.

Dalam cerita tersebut dikisahkan dalam Bhuwana Alit pikiran jahat merupakan perwujudan dari Raksasa dan pikiran baik perwujudan Dewa. Bila dunia atau Bhuwana Agung diputar oleh pikiran-pikiran jahat maka manusia di dunia mengalami kehancuran dan bila dunia diputar oleh pikiran-pikiran baik, kebijaksanaan dan arif, maka dunia akan memberikan kemakmuran yang berlimpah yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Antara Dewa dan Raksasa berebut untuk memutar Gunung Mandara. Pada saat diputar, yang keluar pertama adalah halahala, yakni racun yang mematikan. Hyang Siwa sebagai juru selamat yang bijaksana menelan racun tersebut sehingga menyelamatkan para Dewa dan Raksasa dari kehancuran. Ketamakan para Raksasa dan tindakan mementingkan diri sendiri untuk menguasai cupu yang berisi Amerta menimbulkan salah paham, rasa tidak puasdan pertentangan. Namun, akhirnya para Dewa berhasil menguasai Amerta dan masing-masing memperoleh bagian. Setelah itu dilakukan upacara sembahyang bersama yaitu tepat pukul 12.00 yang didahului dengan Puja Tri Sandya yang diikuti seluruh umat yang hadir dan dilanjutkan dengan 9 kali Muspa.

Setelah Muspa dilakukan meditasi untuk mendoakan bangsa dan Negara serta individu umat masing-masing. Seusainya puluhan wasi atau pandita memercikkan tirta pada umat. Pelaksanaan upacara ini berakhir sekitar pukul 13.30 WIB. Sementara menjelang petang di setiap Pura diadakan Pemecaruan oleh Penyungsung Pura masing-masing.
Kegiatan ini juga dapat dilaksanakan di rumah umat masing-masing dengan tujuan untuk mengusir Buta Kala.Hari Raya Nyepi dirayakan setiap tahun Baru Caka (pergantian tahun Caka). Yaitu pada hari Tilem Kesanga (IX) yang merupakan hari pesucian Dewa-Dewa yang berada di pusat samudera yang membawa inti sarining air hidup (Tirtha Amertha Kamandalu). Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap Dewa-Dewa tersebut.Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon kehadapan Tuhan Yang Mahaesa, untuk menyucikan Bhuwana Alit (alam manusia) dan Bhuwana Agung (alam semesta). Rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi adalah sebagai berikut :

1. Tawur
(Pecaruan), Pengrupukan, dan Melasti.Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada “panglong ping 14 sasih kesanga” umat Hindu melaksanakan upacara Butha Yadnya di perempatan jalan dan lingkungan rumah masing-masing, dengan mengambil salahg satu dari jenis-jenis “Caru” menurut kemampuannya. Bhuta Yadnya itu masing-masing bernama; Panca Sata (kecil), Panca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar).

Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisudha Bhuta Kala, dan segala ‘leteh’ (kotor), semoga sirna semuanya.Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari; nasi manca warna (lima warna) berjumlah 9 tanding/paket, lauk pauknya ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Bhuta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Bhuta Raja, Bhuta Kala dan Bhatara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Setalah mecaru dilanjutkan dengan upacara pengerupukan, yaitu : menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesui, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar.

Khusus di Bali, pada pengrupukan ini biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Bhuta Kala dari lingkungan sekitar.

Selanjutnya dilakukan Melasti yaitu menghanyutkan segala leteh (kotor) ke laut, serta menyucikan “pretima”. DIlakukan di laut, karena laut (segara) dianggap sebagai sumber Tirtha Amertha (Dewa Ruci, dan Pemuteran Mandaragiri). Selambat-lambatnya pada Tilem sore, pelelastian sudah selesai.

2. Nyepi

Keesoka harinya, yaitu pada “panglong ping 15″ (Tilem Kesanga), tibalah Hari Raya Nyepi. Pada hari ini dilakukan puasa/peberatan Nyepi yang disebut Catur Beratha Penyepian dan terdiri dari; amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Beratha ini dilakukan sejak sebelum matahari terbit.

Menurut umat Hindu, segala hal yang bersifat peralihan, selalu didahului dengan perlambang gelap. Misalnya seorang bayi yang akan beralih menjadi anak-anak (1 oton/6 bulan), lambang ini diwujudkan dengan ‘matekep guwungan’ (ditutup sangkat ayam). Wanita yang beralih dari masa kanak-kanak ke dewasa (Ngeraja Sewala), upacaranya didahului dengan ngekep (dipingit).

Demikianlah untuk masa baru, ditempuh secara baru lahir, yaitu benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam caka/tahun barupun, dasar ini dipergunakan, sehingga ada masa amati geni.

Yang lebih penting dari dari pada perlambang-perlambang lahir itu (amati geni), sesuai dengan Lontar Sundari Gama adalah memutihbersihkan hati sanubari, dan itu merupakan keharusan bagi umat Hindu.

Tiap orang berilmu (sang wruhing tatwa dnjana) melaksanakan; Bharata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadhi (menunggal kepada Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi), yang bertujuan kesucian lahir bathin).

Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu, sehingga akan mempunyai kesiapan bathin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. Kebiasaan merayakan Hari Raya dengan berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru dan mesti dirubah.

3. Ngembak Geni (Ngembak Api)

Terakhir dari perayaan Hari Raya Nyepi adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada tangal ping pisan (1) sasih kedasa (X). Pada hari Inilah tahun baru Caka tersebut dimulai. Umat Hindu bersilahturahmi dengan keluarga besar dan tetangga, saling maaf memaafkan (ksama), satu sama lain.

Dengan suasana baru, kehidupan baru akan dimulai dengan hati putih bersih. Jadi kalau tahun masehi berakhir tiap tanggal 31 Desember dan tahun barunya dimulai 1 Januari, maka tahun Caka berakhir pada panglong ping limolas (15) sasih kedasa (X), dan tahun barunya dimulai tanggal 1 sasih kedasa (X).


10. UPACARA CING-CING GOLING

Gunungkidul juga terdapat tradisi sejenis yang memiliki keunikan dan cerita menarik. Seperti upacara
tradisi Cing Cing Goling di Desa Gedangrejo Kecamatan Karangmojo. Upacara ini sebagai ungkapan syukur,sekaligus merupakan sedekah bendungan, yang sudah berlangsung sejak abad 16 lalu. Upacara tradisi Cing Cing Goling yang berlangsung benar-benar unik.Selamatan tersebut berlangsung dipinggir Kali Kebo Gawang Dusun Gedangan, Gedangrejo, Kec.Karangmojo Kabupaten Gunungkidul dan persis dibawah pohon besar yang oleh masyarakat setempat masih dianggap wingit.

Dalam upacara tradisi yang dihadiri masyarakat  baik dari sekitar bendungan, maupun dari
berbagai daerah. Untuk pelaksanaan sadranan tersebut dipersembahkan ingkung ayam kampung dan  kepala kambing  Selain itu masyarakat sekitar yang sebagian besar kaum wanita, juga membawa selamatan khusus berupa nasi beserta lauk pauk lengkap. Setelah didoakan oleh juru kunci setempat, ingkung ayam, kepala kambing dan selamatan lainnya dibagi kepada seluruh pengunjung yang hadir.

Dikisahkan oleh  salah satu tokoh masyarakat Gedangrejo, bahwa tradisi Cing Cing Goling, merupakan tradisi peninggalan nenek moyang yang sudah ada sejak tahun 1600 yang lalu. Munculnya upacara tradisi, juga tidak terlepas dari kerajaan Majapahit. Ketika Majapahit runtuh, para hulu balang raja, diantaranya Kyai dan Nyai Wisang Sanjaya, Kyai Tropoyo dan Kyai Yudapati mencari keselamatan ke daerah Gunungkidul, yang saat itu masih berupa hutan,dan penduduknya masih jarang.

Setelah sampai di suatu tempat yang kini bernama Gedangan, sejumlah punggawa Kerajaan Majapahit tersebut beristirahat dan menempati daerah tersebut. Para punggawa kerajaan tersebut mempunyai jasa besar dalam memajukan pertanian, yakni membangun bendungan di Kali Kebo Gawang. Yang hingga kini bendungan tersebut masih dinikmati oleh penduduk, untuk irigasi pertanian,Ada keunikan dalam upacara tradisi tersebut, yakni bagi masyarakat yang mempersembahkan ingkung ayam,harus benar-benar iklas, karena apabila dengan terpaksa, ingkung tidak akan bisa matang. Percaya atau tidak silahkan. .

Sebelum sesaji dibagikan kepada pengunjung, didahului dengan prosesi Cing Cing Goling, yakni prosesi kejar-kejaran Nyai Wisang Sanjaya ketika datang di daerah Gedangan tersebut. Prosesi dilakukan oleh 24 orang, menyusuri lahan pertanian. Ketika Nyai Wisang Sanjaya yang diperagakan salah satu warga Gedangan, ketika dikejar oleh sekelompok pengembala ternak, berlari sambil mencincingkan kainnya, sehingga tradisi tersebut ditengarai Cing Cing Goling.


11. Upacara Waicak

Kisah ini dimulai tentang sebuah kelahiran di bulan Waisak tahun 623 SM, tentang bayi agung dari kerajaan Kapilavastu, tentang bunga teratai yang tumbuh diatas kaki sang bayi. Bumi yang bergetar, jiwa yang bergejolak, tentang paradoksal masa lalu dan yang akan datang, tentang taman lumbini yang menyelipkan ceritera tentang awal dan akhir sebuah kehidupan.

Mestinya hidup tidak melulu tentang kegagahan, dan kemewahan, tidak melulu tentang kemegahan dan kemasyuran, tapi hidupkah kehidupan Pangeran Sidharta? ketika ia dilarang melihat empat hal. Hidupkah kehidupannya ? Ketika ia dilarang melihat orang sakit, orang tua, orang mati dan pertapa ? Hidupkah kehidupan Sidharta, ketika Yasodhara istri terkasih dan Rahula sang anak tercinta menjadi bagian dari hidupnya?

Pada akhirnya pangeran Sidharta melihat semua kenyataan itu. Manusia menjadi tua, sakit dan mati, ia tidak berhenti bertanya, ia merasakan, ia adalah bagian dari semua itu. Ia bukan burung yang silau oleh bulu indahnya. Ia bagian dari realitas itu. kenyataan hidup yang menyakitkan.

Lalu sidharta bertanya Siapakah yang dapat menghentikan semua tragedi itu? obat apa yang dapat mengatasi semua penderitaan itu? Bulatlah sudah, Sidharta meninggalkan keluarga dan menanggalkan kemilau kekayaannya, mencari obat yang dapat mengatasi semua penderitaan.

Namun semua itu tidak mudah dengan jerih payah menyakitkan dan melelahkan. Ditengah hedodisme ketidak jernihan pandangan hati dan pikiran, dan ditengah kemungkinan menjadi bagian dari orang kebanyakan. Atau menjadi ahli waris dari sebuah kerajaan yang gilang -gemilang, Sidharta memilih menjadi seorang pertapa. Selama enam tahun Sidharta menyiksa dirinya, tetapi hidupnya tidak lagi dengan kepura-puraan. Hidupnya jadi punya makna. Ketenangan batin dan pandangan yang terang telah membongkar keserakahan , kebencian dan kebodohan yang selama ini mengakar menjadi sebab derita.

Berakhirlah semua pandangan keliru dan kemelakatan yang selama ini menyelimuti. Berakhirlah simbol-simbol duniawi yang menipu, yang menjebak dan mematikan. Memiliki semuanya tanpa harus memiliki apa-apa, menjadi punya dalam ketakpunyaan, menjadi tak punya dalam kepunyaan. Sang pangeran Sidharta telah menjadi Buddha. Di Bulan Waisak.

Sang Buddha kemudian membabarkan Dharma yang luhur kepada semua makhluk, selama 45 tahun memutar roda dhrma, membangkitkan kesadaran spiritual dan membuka sabut kegelapan yang selama ini mencengkram menutupi alam semesta.

Semua kisah pada akhirnya adalah sebuah epilog bahkan seorang guru agung seperti Sang Buddha yang tiada bandingnya yang sempurna dalam kebijaksanaannya akan mangkat. Tidak ada yang kekal kecuali kekekalan itu sendiri dan manakala bulan waisak di tahun 543 SM tiba, Sang Buddha pun mencapai maha parinirvana. Namun kelahiran tidak lagi tentang tangis bayi juga tidak lagi tentang paradoksal awal dan akhir.

12. Upacara Adat Tunggul Wulung

Diselenggarakan sebagai perwujudan napak tilas perjalanan Ki Ageng Tunggul Wulung dari bekas Kraton Diro di Dusun Diro, Sendang Mulyo, Minggir menuju petilasan muksanya (hilangnya) Ki Ageng Tunggul Wulung di Desa Tengahan Sendang Agung, Minggir. Upacara ini diselenggarakan pada setiap Jumat Pon Bulan Agustus. Dimulai pukul 15.00 WIB yang ditandai dengan arak-arakan prajurit dan pusaka yang dilanjutkan pagelaran tari Tayub yang bisa diikuti para pengunjung.

13. Upacara Saparan Gamping (Bekakak)


Upacara ini diselenggarakan di Desa Ambarketawang, Gamping, Sleman yang dilaksanakan setiap Bulan Sapar, hari Jumat pada minggu ke -3 pukul 15.00 WIB. Puncak acara berupa penyembelihan sepasang boneka pengantin (Bekakak) yang sebelumnya telah diarak keliling desa.

Upacara ini dilaksanakan untuk mengenang kesetiaan Abdi Dalem Kraton Yogyakarta yang bernama Ki Wiro Suto

14. 1 (Satu ) Muharram = 1 (satu) Suro Jawa?


Bulan Muharam dalam Konteks Historis
Dalam sejarah Islam, Muharam memiliki tradisi panjang sebagai sebagai salah satu bulan suci. Ada banyak peristiwa penting yang terjadi di bulan ini, di antaranya: Dijadikannya 1 Muharam sebagai awal penanggalan Islam oleh Khalifah Umar bin Khathab, pemindahan arah kiblat dari Jerussalem ke Mekah pada 16 Muharam, dan terbunuhnya cucu kesayangan Rasulullah, Imam Husein bin Ali di Karbala pada tahun 81 H/680 M.

Kasus terakhir ini menimbulkan duka mendalam bagi penganut Syiah. Terbunuhnya Imam Husein oleh pasukan Yazid bin Muawiyyah pada bulan Muharam, melahirkan sebuah kepercayaan baru dikalangan Syiah, yang menganggap Muharam sebagai bulan kesedihan dan bulan sial. Dalam perkembangan selanjutnya, penganut Syiah menciptakan ritual-ritual khusus untuk memperingati tragedi Karbala, berupa majelis-majelis ratapan yang berpuncak pada 10 Muharam (10 Asyura), tepat di hari wafatnya Imam Husein. Entah mengapa keyakinan seperti ini kemudian berimbas pula pada sebagian penganut Sunni termasuk di Indonesia yang menganggap bulan Muharam adalah bulan keramat yang sekaligus bulan kesialan, sehingga banyak melahirkan praktik-praktik khurafat dan bid’ah.

Padahal, menurut hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dikatakan bahwa pada mulanya Rasulullah saw mempercayai keterangan orang Yahudi bahwa hari Asyura (dalam tradisi Arab disebut “Asyura” pula), yakni tangal 1 Bulan Tishri, adalah “yaumun shalihun.” Jadi, hari yang tertanggal tersebut bukanlah hari sial, bahkan disebut “hari yang baik” (yaumun shalihun). Justru, pada hari itu dianggap sebagai salah satu hari “penebus dosa” dengan cara berpuasa.


Ajaran Islam sendiri sangat memuliakan bulan ini, bahkan Allah melarang berperang, saling membunuh, dan merusak syiar-syiar Islam pada bulan ini (lihat QS. Al Maidah: 2). Kata Muharam sendiri berarti “yang diharamkan.” Artinya, pada bulan ini orang-orang Arab jahiliyah menghentikan semua peperangan yang dilakukannya. Kesucian Bulan Muharam juga dipandang berhubungan dengan tradisi orang-orang Yahudi, khususnya tradisi hari Assyura

Dalam agama Yahudi, ada satu hari yang dipandang bernilai rohaniah dan sangat diagungkan,yaitu hari Yom Kippur (Hari Penebusan Dosa). Istilah ini dari bahasa Ibrani, “yom” (yaumun, bahasa Arab) yang berarti “hari” dan “kippur” (dari kata Ibrani “kuppar”) yang berarti “perdamaian”. Hari ini merupakan salah satu hari suci yang paling dikeramatkan orang-orang Yahudi.

Hari Yom Kippur itu jatuh pada hari kesepuluh dalam bulan ke-7 (yang disebut bulan Tishri) dalam agama Yahudi. Istilah “Hari Kesepuluh” (The Tenth) ini dalam bahasa Yahudi-Aram (Hebrew-Aramic) disebut “Asyura.” Pada hari ini, orang-orang Yahudi melakukan persembahyangan dan puasa. Mereka yakin bahwa pada hari inilah mereka diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menghapuskan dosa mereka yang dilakukan selama setahun sebelumnya. Dalam kesempatan ini mereka berkunjung antar keluarga, antar sahabat dan tetangga untuk saling memohon maaf.

Dalam Serat Widya Pradana (karangan R. Ng. Ranggawarsita) dikatakan bahwa untuk memperkenalkan kalender Islam di kalangan masyarakat Jawa, maka bertepatan dengan tahun 931 H atau 1400 tahun Saka, atau 1443 tahun Jawa baru, yaitu pada jaman pemerintahan kerajaan Demak, Sunan Giri II telah membuat penyesuaian antara sistem kalender Hirjiyah dengan sistem kalender Jawa pada waktu itu. Caranya adalah menggabungkan hari tujuh Hijriyah dengan hari kelima (tepatnya hari lima atau pancawara). Sebelum ada hari tujuh Islam (Itsnain, Tsulatsa’, Arba’a, Khamis, Jum’ah, Sabt dan Ahad) ada hari tujuh lama (Soma, Anggara, Budha, Respati, Sukra, Tumpak dan Radite). Adapun pancawara tetap dipakai tidak diganti. Pancawara itu meliputi: legi (manis), pahing (merah), pon (kuning), wage (hitam), dan kliwon (asih atau kasih). Karena perangkapan atau penggabungan ini (hari tujuh Islam dengan pancawara), maka dikenallah hitungan selapan (35 hari) dalam setiap bulan.

Penggabungan kalender tersebut, untuk sebagian orang, diduga sebagai salah satu strategi untuk merukunkan dua varian, yang menurut Clifford Geertz disebut “Islam santri” dan “Islam abangan.” Waktu itu, Sultan Agung menginginkan persatuan rakyatnya untuk menggempur Belanda di Batavia, termasuk ingin “menyatukan Pulau Jawa.” Oleh karena itu, dia ingin rakyatnya tidak terbelah, apalagi disebabkan keyakinan agama. Sultan Agung Harnyokrokusumo ingin merangkul dua varian tersebut.

Pada setiap hari Jumat legi, Sultan Agung menjadikan dina paseban (hari pertemuan resmi) sebagai pelaporan pemerintahan daerah-daerah kepada keraton secara resmi. Sementara itu, untuk daerah Timur, pada hari yang sama (Jumat legi) dilakukan juga laporan pemerintahan setempat sambil dilakukan pengajian yang dilakukan oleh para penghulu kabupaten, sekaligus dilakukan ziarah kubur dan haul (kalau tepat waktu) ke makam Ngampel dan Giri. Akibatnya, 1 Muharram (1 Suro Jawa) yang dimulai pada hari Jumat legi ikut-ikut dikeramatkan pula, bahkan dianggap sial kalau ada orang yang memanfaatkan hari tersebut diluar kepentingan mengaji, ziarah, dan haul.

15. Upacara Suran Mbah Demang


Merupakan suatu upacara adat untuk memperingati perjuangan Demang Cokro Dikromo dalam usahanya mensejahterakan masyarakat di wilayahnya. Upacara ini diselenggarakan di Dusun Modinan, Banyuraden, Gamping pada tanggal 8 Suro (bulan Jawa) yang sebulan sebelumnya diramaikan oleh pasar malam. Pada puncak acara diadakan pengambilan air dari sumur peninggalan Ki Demang yang dipergunakan untuk cuci muka atau mandi yang oleh masyarakat dipercaya sebagai air bertuah.

UPACARA puncak tradisi ritual Mbah Demang yang diselenggarakan di komplek sumur tiban di Guyangan, Banyuraden, Gamping Sleman, Yogyakarta selalu  meriah. Ratusan warga rela berjubel di tengah jalan untuk memperebutkan sesaji-sesaji yang disebarkan.

Mereka percaya bahwa dengan mendapatkan sesaji tersebut akan mendapatkan berkah, bahkan banyak para remaja alias “ABG” (anak baru gede) sabar menunggu dan harus antri untuk sekadar cuci muka, karena air sumur tiban Guyangan dipercaya sebagai obat awet muda.

Kendi ijo, yaitu nasi dilengkapi dengan lauknya berupa ketan tholo dan gudangan bumbu tumbuk yang dibungkus dengan daun pisang hijau, dibagikan  kepada para bakul kendi dan warga sekitar. Pada malam harinya dilanjutkan dengan upacara kirab pusaka Kyai Blencong, Bende, tumbak dan kitab Ambeyo serta foto Mbah Demang Cokrodikromo dan foto Eyang Ki Juru Permono Patran. Kirab tersebut dimulai dari Padepokan Patran Eyang Ki Juru Permono, seorang ahli nujum kerajaan Mataram, menuju Pendopo Mbah Demang.

Selain pusaka dan kitab serta foto, dalam kirab tersebut juga diarak berbagai uba rampe seperti kendi ijo besar, air suci panguripan dan gunungan hasil bumi yang berisi padi, terong, wortel, cabai dan lainnya. Uba rampe tersebut diarak oleh barisan cucuk lampah, sesepuh trah, anak cucu kademangan, para santri, prajurit pembawa pusaka, santri dan ulama, perangkat desa yang diikuti warga. Sesampainya di depan Pendopo Mbah Demang, kirab disambut dengan tarian Goyang Sonder yang dibawakan 11 penari.. Dalam upacara penyerahan tersebut juga dilakukan pembacaan riwayat hidup Mbah Demang. Setelah diserahkan, uba rampe kemudian  disebar dan diperebutkan.

Sementara di sumur tiban Guyangan, banyak warga yang mengambil air untuk dibawa pulang atau hanya untuk cuci muka. Mereka percaya khasiat air tersebut dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Bahkan sebagian ada yang mempercayai bahwa cuci muka dengan air tersebut dapat mencegah ketuaan.

Pada tengah malam, di sumur tersebut diadakan upacara siraman keluarga Mbah Demang yang diikuti oleh warga yang hadir di sumur tiban.

Upacara adat Suran Mbah Demang ini ternyata membawa rezeki bagi para penjual kendi. Pasalnya, orang-orang yang mengambil air di sumur tiban percaya bahwa air tersebut akan lebih manjur kegunaannya apabila dimasukkan ke dalam kendi. Oleh karena itu, mereka rela mengeluarkan uang antara dua sampai enam ribu rupiah untuk setiap kendi .


DIY SEBAGAI PUSAT BUDAYA

Budaya sebagai tata nilai, simbol-simbol  dan produk dari peri kehidupan manusia di DIY berkembang dengan baik tanpa melepaskan diri dari akarnya. Kraton Ngayogyakarta dan Puro Pakualaman sebagai pusat budaya Jawa tetap eksis dan menjadi sumber dari perkembangan budaya masyarakat. Walaupun demikian, dengan karakter manusia DIY yang toleran terhadap adanya perbedaan, budaya dari luar daerah pun juga dapat diterima dan memperkaya khasanah budaya nusantara.

Sebagai pusat budaya, maka pelestarian budaya (produk budaya maupun nilai budaya) sangat mendapat perhatian. Salah satu contoh dari upaya pelestarian produk budaya adalah Program Pelestarian dan Pengembangan Sejarah Kepurbakalaan yang meliputi:

1.     Peningkatan Kawasan Cagar Budaya (KCB) dari 7 kawasan menjadi 13 kawasan cagar budaya;

2.     Terbentuknya Forum Pelestarian Warisan Budaya sebagai wadah pemerhati dan pelestari warisan budaya yang beranggotakan LSM, tokoh-tokoh masyarakat dan birokrat;

3.     Terbentuknya Tim Pengelola KCB dari tingkat Kecamatan dan Desa/Kelurahan dan Desa Budaya;

4.     Meningkatnya jumlah LSM dari 2 organisasi menjadi hampir 40 organisasi Pelestari Warisan Budaya;

5.     Penambahan jumlah peninggalan sejarah dan purbakala yang terehabilitasi dan terlestarikan mencapai 20 Benda Cagar Budaya (BCB) berkualifikasi Nasional dan Propinsi;

6.     Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan pada akhir tahun 2003 diharapkan dapat menghasilkan peningkatan kualitas dan kuantitas peninggalan sejarah dan purbakala sebanyak 8 KCB tertangani dengan baik (KCB Tamansari, Kraton, Kotagede, Prambanan, Puro Pakualaman, Kerta, Pleret, Ambarbinangun), 25 BCB berkualifikasi Nasional dan Propinsi serta peninggalan budaya lainnya, seperti 5 masjid Pathok Negara.

Di bidang permuseuman telah dilaksanakan pembinaan dan pengembangan baik secara internal bagi para pengelola museum tentang manajemen permuseuman dan secara eksternal melaksanakan sosialisasi dan apresiasi masyarakat terhadap museum.

Sementara itu, Museum Sonobudoyo sebagai museum tertua kedua setelah Museum Nasional telah selesai menyusun studi revitalisasi untuk peningkatan peran dan fungsinya, sedangkan tentang pendirian Museum Seni Rupa di Yogyakarta sedang dalam tahap persiapan.

Dalam kurun waktu 5 tahun semenjak tahun 1998 terjadi peningkatan jumlah museum dari semula 25 buah menjadi 30 buah yang terdiri dari jenis Museum Umum dan Museum Khusus.

Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) merupakan salah satu kegiatan dimaksud yang secara rutin diselenggarakan setiap tahun selama 15 tahun terakhir, di samping berdampak seperti tersebut di atas juga semakin menambah semarak yang tidak kecil kontribusinya dalam memberi nilai tambah bagi kepariwisataan DIY. FKY ini merupakan refleksi dari perkembangan budaya rakyat yang berakar kepada budaya adiluhung yang berkutub pada Kraton Ngayogyakarta dan Puro Pakualaman.

Antusiasme seniman-budayawan dalam memantapkan keberadaan mereka sekaligus berimplikasi dalam pengembangan kebudayaan juga tercermin dengan terbentuknya Dewan Kebudayaan DIY yang merupakan pengembangan dari Dewan Kesenian DIY. Dewan Kebudayaan tersebut ditetapkan dalam Musyawarah Daerah Dewan Kesenian pada tahun 2003, yang dilatarbelakangi pemikiran perlu adanya pengembangan organisasi yang tidak hanya mengakomodasi-kan Budaya ‘intangible’ yang selama ini menjadi fokus kelolanya, namun juga dipandang perlu mengakomodasikan budaya yang bersifat ‘tangible‘.

Apa yang telah dilaksanakan di atas merupakan bentuk komitmen kita untuk mempertahankan predikat Yogyakarta dengan Kraton Ngayogyakarta dan Pura Pakualaman sebagai pusat budaya Jawa yang keberadaannya diakui oleh masyarakat luas. Keberadaan Yogyakarta sebagai pusat budaya Jawa yang cukup disegani dibuktikan dengan pengakuan secara implisit dari beberapa daerah dalam bentuk pengangkatan dan pemberian gelar adat kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X yang juga Gubernur Propinsi DIY. Daerah-daerah yang memberi gelar adat tersebut adalah Sumatra Barat, Makassar, Maluku, dan yang terakhir Riau pada bulan 26 Juni 2003 yang lalu. Penganugerahan gelar adat tersebut sebagai bentuk penghargaan atas peran Gubernur DIY dalam ikut membina dan mengayomi masyarakat dari daerah yang bersangkutan.

Sumber BAPEDA Propinsi DIY

Responses

  1. Kesaktian apapun yang dimiliki manusia, bila manusia telah sampai ajalnya, maka manusia pasti meninggalkan kemewahan dan kesenangan hidup ini, Isteri dan anak-anak yang disayang dan dibanggakan pasti berpisah dan ditinggalkan, harta yang melimpah tidak akan dibawa mati. Ki Ageng Tunggul Wulung meninggal dunia seperti meninggalnya manusia pada umumnya (bukan mukswa) Beliau dipanggil oleh Allah swt untuk menghadap kehadirah Allah swt. Sebesar atau sekecil apapun amal shalih manusia, sebesar atau sekecil apapun jasa kebaikan atau keburukan manusia pasti tidak akan terlepas dari pertanggungjawaban dan akan akan memperoleh balasan di hadapan Allah swt sebagai satu-satunya hakim Yang Maha Adil, Yang Maha Besar dan Maha Bijaksana. Semoga Almarhum mendapatkan Ridha dan Rahmat Allah swt, aamiin yaa Rabbal’aalamiin. Dari versi Keturunan Ki Ageng Tunggul Wulung yang berada di Jawa Timur Ki Ageng Tunggul Wulung beranak 4 orang yaitu : 1. Juwa Iko (laki-laki); 2. Isma’il (laki-laki); Natu (perempuan); 4. Warso (laki-laki). Sepeninggal Ki Ageng Tunggul Wulung, ke empat anaknya bertempat tinggal di Ponorogo. Selanjut ketiga anak Beliau (Juwa Iko, Isma’il, Natu) akhirnya menetap di Desa Wanengpaten Gampengrejo Kediri Jawa Timur sampai dengan meninggal dunia dan dimakamkan disana. Keturunan Beliau sebagaian besar juga berada di sana maupun di Magetan, Lampung, dan beberapa kota lain di Indonesia

    • Thanks ya infonya…..saya sdh lama sekali tidak update block dan buka block ini jadi klo mo update agak lupa…heheee…klo msh ada yg lainnya silahkan isi saja yaa..krn saya lagi sibuk dgn kerjaan saya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: